Mendidik Anak Sesuai Fitrah Seksualitas
Didiklah anak sesuai fitrahnya. Fitrah apa? Pada dasarnya ada beberapa fitrah yang perlu ayah dan bunda tahu. Diantaranya adalah fitrah iman, fitrah belajar, fitrah bakat dan fitrah seksualitas.
Fitrah seksualitas?
Wow bagaimana itu? Nah pada artikel kali ini Zona Netral akan membahas apa itu fitrah seksual pada anak.
Mendidik anak sesuai fitrah seksualitas artinya mengenalkan anak bagaimana bersikap, berpikir, dan merasa seperti gendernya. Jika ia anak perempuan, maka kita bangkitkan fitrah seksulitasnya sbg perempuan.Jika ia laki laki, maka kita bangunkan fitrah seksualitasnya sebagai laki laki. Pertanyaan berikutnya yg muncul adalah bagaimana teknis membangkitkan fitrah seksualitas ini ?Ada beberapa tahap yg perlu kita kawal di setiap fasenya.
Fitrah seksualitas?
Wow bagaimana itu? Nah pada artikel kali ini Zona Netral akan membahas apa itu fitrah seksual pada anak.
Mendidik anak sesuai fitrah seksualitas artinya mengenalkan anak bagaimana bersikap, berpikir, dan merasa seperti gendernya. Jika ia anak perempuan, maka kita bangkitkan fitrah seksulitasnya sbg perempuan.Jika ia laki laki, maka kita bangunkan fitrah seksualitasnya sebagai laki laki. Pertanyaan berikutnya yg muncul adalah bagaimana teknis membangkitkan fitrah seksualitas ini ?Ada beberapa tahap yg perlu kita kawal di setiap fasenya.
1. Anak usia 0 - 2 tahun
Pada usia ini anak harus dekat dengan bundanya.
Pendidikan tauhid pertama adalah menyusui anak sampai 2 tahun. Menyusui artinya bukan hanya sekedar memberi asi.
Langsung disusui tanpa pumping dan tanpa disambi pegang hp.
2. Anak usia 3 - 6 tahun
Pada usia ini anak harus dekat dengan kedua orang tuanya.
Dekat dengan bundanya, juga dekat dengan ayahnya.
Perbanyak aktivitas bersama seperti meluangkan waktu di sore hari sekedar untuk bercengkrama.
Pada usia ini anak harus dekat dengan kedua orang tuanya.
Dekat dengan bundanya, juga dekat dengan ayahnya.
Perbanyak aktivitas bersama seperti meluangkan waktu di sore hari sekedar untuk bercengkrama.
3. Anak usia 7 - 10 tahun
Pada usia ini dekatkan anak sesuai gendernya. Jika anak laki laki maka dekatkan dengan ayahnya. Ajak anak beraktifitas yang menonjolkan sisi maskulinnya seperti cuuci motor, akrab dg alat alat pertukangan, dsb.
Jika anak perempuan, maka dekatkan dengan bundanya.
Libatkan anak dalam aktifitas yg menonjolkan sisi feminimnya.
Stop katering dan banyak utak atik di dapur bersama anak, melibatkan anak saat bersih bersih rumah, menjahit dsb.
Pada usia ini dekatkan anak sesuai gendernya. Jika anak laki laki maka dekatkan dengan ayahnya. Ajak anak beraktifitas yang menonjolkan sisi maskulinnya seperti cuuci motor, akrab dg alat alat pertukangan, dsb.
Jika anak perempuan, maka dekatkan dengan bundanya.
Libatkan anak dalam aktifitas yg menonjolkan sisi feminimnya.
Stop katering dan banyak utak atik di dapur bersama anak, melibatkan anak saat bersih bersih rumah, menjahit dsb.
4. Anak usia 11 - 14 tahun
Usia ini sudah masuk tahap pre aqil baligh akhir dan pada usia ini mulailah switch/menukar kedekatan.
Jika anak laki laki, maka dekatkan pada bundanya.
Jika anak perempuan, maka dekatkan pada ayahnya.
Ada sebuah riset yg menunjukkan jika seorang anak perempuan tidak dekat dengan ayahnya pada fase ini maka data menunjukkan anak tersebut 6x lebih rentan akan ditiduri oleh laki laki lain.
Di sebuah artikel parenting, dulu saya juga menemukan hal senada.
Jika anak perempuan tidak dekat dengan ayahnya, maka anak perempuan akan mudah terpikat dengan laki laki yg menawarkan perhatian dan cinta meski hanya untuk kepuasan dan mengambil keuntungan semata.
Logis juga sih. Saat ada laki-laki yang memuji kecantikannya, mungkin ananda gak gampang silau karena ada ayahnya yang lebih sering memujinya.
Kalau ada laki-laki yg memberikan hadiah, ananda tak akan gampang klepek klepek karena ada ayahnya yang lebih dulu mencurahkan perhatian dan memberi hadiah.
Pada fase ini jika anak perempuan harus dekat dg ayahnya, maka sebaliknya, anak laki-laki harus dekat dengan bundanya.Efek yg sangat mungkin muncul jika tahap ini terlewat, maka anak laki-laki punya potensi lebih besar untuk jadi suami yang kasar, playboy, dan tidak memahami perempuan.
Ada yang tanya, lho kalau ortunya bercerai atau LDR bagaimana?
Hadirkan sosok lain sesuai gender yg dibutuhkan.
Misal saat ia tak punya ayah, maka cari laki-laki lain yg bisa menjadi sosok ayah pengganti.
Bisa kakek, atau paman.
Sama dengan rasulullah.
Meskipun tak punya ayah dan ibu, tapi rasulullah tak pernah kehilangan sosok ayah dan ibu.
Ada kakek dan pamannya.
Ada nenek, bibi dan ibu susunya.
Fase berikutnya setelah 14 thn bagaimana? Sudah tuntas. Krn jumhur ulama sepakat usia 15 thn adalah usia aqil baligh
Artinya anak kita sudah "bukan" anak kita lagi.
Ia telah menjelma menjadi orang lain yang sepadan dengan kita.
Maka fokus dan bersabarlah mendampingi anak kita, karena kita hanya punya waktu 14thn saja.
Saling mengingatkan, saling menguatkan, saling mendoakan ya teman-teman .
Semoga Allah memampukan dan bisa mempertanggungjawabkan amanah ini kelak di hari penghitungan..
Selamat berkumpul dan merajut cinta bersama keluarga.
Apapun keadaannya, jangan lupa bersyukur dan bahagia.
Usia ini sudah masuk tahap pre aqil baligh akhir dan pada usia ini mulailah switch/menukar kedekatan.
Jika anak laki laki, maka dekatkan pada bundanya.
Jika anak perempuan, maka dekatkan pada ayahnya.
Ada sebuah riset yg menunjukkan jika seorang anak perempuan tidak dekat dengan ayahnya pada fase ini maka data menunjukkan anak tersebut 6x lebih rentan akan ditiduri oleh laki laki lain.
Di sebuah artikel parenting, dulu saya juga menemukan hal senada.
Jika anak perempuan tidak dekat dengan ayahnya, maka anak perempuan akan mudah terpikat dengan laki laki yg menawarkan perhatian dan cinta meski hanya untuk kepuasan dan mengambil keuntungan semata.
Logis juga sih. Saat ada laki-laki yang memuji kecantikannya, mungkin ananda gak gampang silau karena ada ayahnya yang lebih sering memujinya.
Kalau ada laki-laki yg memberikan hadiah, ananda tak akan gampang klepek klepek karena ada ayahnya yang lebih dulu mencurahkan perhatian dan memberi hadiah.
Pada fase ini jika anak perempuan harus dekat dg ayahnya, maka sebaliknya, anak laki-laki harus dekat dengan bundanya.Efek yg sangat mungkin muncul jika tahap ini terlewat, maka anak laki-laki punya potensi lebih besar untuk jadi suami yang kasar, playboy, dan tidak memahami perempuan.
Ada yang tanya, lho kalau ortunya bercerai atau LDR bagaimana?
Hadirkan sosok lain sesuai gender yg dibutuhkan.
Misal saat ia tak punya ayah, maka cari laki-laki lain yg bisa menjadi sosok ayah pengganti.
Bisa kakek, atau paman.
Sama dengan rasulullah.
Meskipun tak punya ayah dan ibu, tapi rasulullah tak pernah kehilangan sosok ayah dan ibu.
Ada kakek dan pamannya.
Ada nenek, bibi dan ibu susunya.
Fase berikutnya setelah 14 thn bagaimana? Sudah tuntas. Krn jumhur ulama sepakat usia 15 thn adalah usia aqil baligh
Artinya anak kita sudah "bukan" anak kita lagi.
Ia telah menjelma menjadi orang lain yang sepadan dengan kita.
Maka fokus dan bersabarlah mendampingi anak kita, karena kita hanya punya waktu 14thn saja.
Saling mengingatkan, saling menguatkan, saling mendoakan ya teman-teman .
Semoga Allah memampukan dan bisa mempertanggungjawabkan amanah ini kelak di hari penghitungan..
Selamat berkumpul dan merajut cinta bersama keluarga.
Apapun keadaannya, jangan lupa bersyukur dan bahagia.

Comments
Post a Comment